ILMU ADALAH LENTERA HATI

Just another WordPress.com weblog

Posts Tagged ‘profil istri dahlan iskan’

Nafsiah Sabri Perempuan Hebat dari Kutai

Posted by Cikgu Kamal pada Mei 24, 2012

Oleh : Mustafa Kamal

Gadis putih cantik itu sangat merdu melantunkan ayat suci Al Quran di sebuah Radio di Semarang. Gadis itu bernama Nafsiah Sabri, perempuan asal Loa Kulu, Kutai Kertanegara seorang aktivis perempuan gerakan pelajar Islam Indonesia Semarang.

Nafsiah dikenal sebagai perempuan yang sholehah, sosok yang humoris, ceria dan mandiri. Dialah Pendamping setia dibalik kesuksesan Dahlan Iskan dari seorang wartawan hingga menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Menurut cerita ketertarikan Dahlan Iskan muda terhadap Nafsiah terjadi sewaktu sama -sama memberikan ceramah agama disebuah radio di Semarang. Keelokan paras Nafsiah dan tingkah lakunya yang menyejukkan membuat Dahlan Iskan muda menaruh hati, namun tidak berani mengutarakannya langsung. Dahlan Iskan hanya berani menawarkan untuk membonceng Nafsiah setiap berangkat untuk Siaran ke Radio tersebut karena kebetulan tempat tinggal mereka berdekatan, tawaran tersebut disambut baik oleh Nafsiah yang juga menyimpan rasa pada Dahlan Iskan muda.

Hal itu diakui oleh Dahlan Iskan pada saat diskusi buku di Kompas Gramedia Fair 2012 di Jakarta beberapa waktu lalu.Dahlan menceritakan pertama kali bertemu dengan Nafsiah Sabri saat masih aktif gerakan mahasiswa. Waktu itu kami aktif mengisi pengajian Alquran di sebuah radio di Samarinda, di mana Nafsiah sering membaca Alquran dan Dahlan menjadi penceramah agama. “Dulu saya hanya punya sepeda dan berangkat boncengan. Saya lihat sepertinya Ia bisa menjadi ibu yang hebat,” kata dahlan. Dahlan pun mengikat janji pernikahan dengan Nafsiah Sabri pada tahun 1975. Waktu itu Dahlan berusia 25 tahun sedangkan Nafsiah berusia 22 tahun . “Usia yang cukup ideal,” jelas Dahlan.

Nafsiah Sabri yang kini berstatus “mantan pacar” Dahlan Iskan sudah memberikan Dahlan Iskan dua orang anak yaitu Azrul Ananda dan Isna Fitriana. Nafsiah adalah sosok perempuan yang sederhana dan sangat setia. Awal Menikah dengan Dahlan Iskan mereka menyewa rumah sangat sederhana di Samarinda. Seluruh tiang rumah sewaan ini menancap di Sungai Karang Mumus, anak Sungai Mahakam. Hanya teras rumahnya yang menempel di bibir jalan raya. Tak ada perabotan memadai di rumah itu. Kasur tempat mereka tidur pun harus digulung kalau siang hari agar rumah tanpa kamar itu tetap terasa lebar.

Kecintaan Nafsiah pada Dahlan bukan cinta karena materi tapi murni dari hati, itu terbukti Nafsiah mau dinikahi Dahlan Iskan walaupun waktu itu Dahlan tidak punya pekerjaan tetap, meninggalkan bangku kuliah dan memilih menjadi reporter lepas sebuah Surat Kabar di Semarang. Bahkan kehidupan sehari-hari lebih banyak dibantu dari Gaji Nafsiah yang menjadi guru SD waktu itu. Ketika lahir anak pertama mereka, Azrul Ananda –(kini presiden direktur Jawa Pos)– mereka bisa menyewa rumah yang ada kamarnya meski di gang sempit.

Nafsiah Sabri adalah istri yang patuh, penyantun dan sangat perhatian pada suaminya. Saat Dahlan hendak hendak berangkat kerja, ia seringkali memanggil dan mengejar Dahlan sampai ke pekarangan rumah untuk sekadar membetulkan kerah baju yang tidak teratur. Kadang, dia menyisir rambut Dahlan yang awut-awutan. Nafsiah Sabri pernah berseloroh tentang kebiasaan Dahlan yang hanya bersandal kemana-mana waktu itu, “Untung saja Mas Dahlan tidak pakai sepatu. Kalau tidak, kakak harus tambah kerjaan ekstra, membetulkan tali sepatunya.”

Bentuk Kepatuhan Nafsia juga terbukti setelah pindah dari Semarang ke Surabaya, Nafsiah ingin kembali mengajar di sekolah, tapi Dahlan tidak mengizinkan. Apalagi dia tidak bisa lagi menemukan ijazah dan surat-surat penting miliknya. Ketika ijazah itu ia tanyakan kepada Dahlan. Jawaban Dahlan, “Sudah saya bakar.” Tapi Nafsiah tidak yakin suami yang dipanggilnya dengan sebutan ‘Bapak Rully (Azrul)’ itu telah membakar ijazahnya. “Curiganya, surat-surat penting saya hanya disembunyikan,” tuturnya. Nafsiah mengerti Dahlan kenapa tidak mau istrinya bekerja karena bagi Dahlan anaknya harus mendapat kasih sayang penuh dari ibunya.

Tentu tidak ada seorang pun yang melebihi kecemasan Nafsiah ketika setelah menikah selama 33 tahun diputuskan hati Dahlan harus diganti karena serangan kanker yang ganas. Pada 2008 lalu Dahlan melakukan operasi transplantasi hati. Nafsiah menuturkan, saat itu dirinya pasrah berserah diri sambil berdoa untuk diberikan yang terbaik. Doanya dikabulkan oleh Allah SWT , Alhamdulillah, semuanya berjalan baik.

Pada 2009, kesehatan Dahlan membaik. Namun, kecemasan Nafsiah kembali diuji , Dahlan ditawari menjadi Direktur Utama PT PLN (Persero), Nafsiah pun menentang. “Mungkin orang yang menentang pertama kali itu saya, saya tunggui ketika beliau sakit di luar negeri. setelah sehat, bapak ditawari kerja di PLN, saya tentang berat, muda kerja, tua kerja, kapan untuk keluarga?” protesnya yang kala itu mengaku baru dikaruniai seorang cucu. Namun, akhirnya Ia menerima keputusan Dahlan Iskan untuk menjadi Dirut PLN.

Ketika Dahlan ditunjuk menjadi Menteri BUMN Nafsiah kembali menentang, namun setelah dirayu dia luluh juga. “Dahlan merayu saya, setelah dua tahun menjabat dia akan istirahat. Dia bilang, ingin jadi penulis saja dan dikelilingi nikmatnya cucu,” katanya. Bahkan Dalam acara Kompas Gramedia tersebut, Dahlan Iskan memberikan seikat bunga untuk sang istri. Selama hampir 37 tahun pernikahan, ini kali pertama Dahlan memberikan bunga kepada Nafsiah. “Ini pertama kali saya menerima rangkaian bunga dari suami saya,” jelas Nafsiah berkaca-kaca.

Sekarang Nafsiah pasrah, kemanapun suaminya pergi dia akan selalu setia mendampingi . Nafsiah tahu janji Dahlan untuk menjabat hanya dua tahun lalu akan istirahat, hanyalah sekedar bujuk rayu saja. Karena Dahlan adalah pekerja keras.Suatu ketika Dahlan pernah berkata ketika Tuhan menyelamatkannya dari kanker hati, maka Dahlan harus mengabdikan seluruh hidupnya untuk kebaikan sesama, tekad Dahlan itu adalah signal bahwa Dahlan tak akan pernah istirahat. Dan Nafsiah mengerti itu!

(Laki-laki tidak akan bisa jadi apa-apa tanpa ada wanita hebat yang mendampinginya dan Pak Dahlan Iskan beruntung dikarunai jodoh Ibu Nafsiah Sabri, perempuan hebat dari kutai! Semangat, Bu! Teruslah menjadi yang terhebat mendampingi Pak Dahlan Iskan. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi seluruh perempuan di Indonesia, anda tidak harus jadi Presiden, Menteri, artis, bergaji besar, terkenal dan sebagainya untuk dianggap sukses, menjadi istri yang hebat dan ibu yang baik saja bagi buah hati anda dan “laki-laki” pilihan anda, anda sudah sukses dunia akhirat, percayalah! )

(Didedikasikan untuk ibunda Nafsia Sabri, salah satu perempuan hebat Indonesia)

Posted in Seputar Dahlan Iskan | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.